Adian Husaini
Dosen Pemikiran Islam di Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor
Dalam berbagai artikel dan dialog di media massa Indonesia, tokoh Ahmadiyah dan pendukungnya yang biasanya mengaku bukan pengikut Ahmadiyah sering mengangkat logika persamaan. Ahmadiyah adalah bagian dari Islam karena banyak persamaannya.
Alquran sama, syahadatnya sama, shalat sama, dan hal-hal yang sama lainnya. Mereka pun mengatakan demi keharmonisan hidup dan kerukunan masyarakat, mengapa Ahmadiyah tidak diakui saja sebagai bagian dari Islam?
Benarkah logika semacam ini? Penyair dan cendekiawan Muslim terkenal asal Pakistan, Dr Muhammad Iqbal (1873-1938), pernah menulis sebuah buku berjudul Islam and Ahmadism (pada 1991 diterjemahkan oleh Makhnun Husein dengan judul Islam dan Ahmadiyah. Terhadap klaim Mirza Ghulam Ahmad bahwa dia nabi dan penerima wahyu, Iqbal mencatat: ''Orang yang mengakui mendapatkan wahyu seperti itu adalah orang yang tidak patuh kepada Islam. Karena kelompok Qadiani mempercayai pendiri gerakan Ahmadiyah sebagai penerima wahyu semacam itu, berarti mereka menyatakan bahwa seluruh dunia Islam adalah kafir.''
Iqbal menyatakan: ''Setiap kelompok masyarakat keagamaan yang secara historik timbul dari Islam, yang mengakui kenabian baru sebagai landasannya dan menyatakan semua umat Muslim yang tidak mengakui kebenaran wahyunya itu sebagai orang-orang kafir, sudah semestinya dianggap oleh setiap Muslim sebagai bahaya besar terhadap solidaritas Islam. Hal itu memang sudah semestinya karena integritas umat Islam dijamin oleh gagasan kenabian terakhir (khatamun nabiyyin) itu sendiri.''
Dalam menilai Ahmadiyah, Iqbal tidak terjebak pada retorika logika persamaan. Iqbal mengacu pada inti persoalan bahwa Ahmadiyah berbeda dengan Islam sehingga dengan tegas ia menulis judul bukunya, Islam and Ahmadism. Titik pokok perbedaan utama antara Islam dan Ahmadiyah adalah pada status kenabian Mirza Ghulam Ahmad, apakah dia nabi atau bukan? Itulah pokok persoalannya.
Umat Islam yakin setelah Nabi Muhammad SAW tidak ada lagi manusia yang diangkat oleh Allah sebagai nabi dan mendapatkan wahyu. ''Sesungguhnya akan ada pada umatku tiga puluh orang pendusta. Masing-masing mengaku sebagai nabi. Padahal, akulah penutup para nabi, tidak ada lagi nabi sesudahku.'' (HR Abu Dawud).
Jadi, umat Islam yakin siapa pun yang mengaku sebagai nabi dan mendapat wahyu setelah Nabi Muhammad SAW, pasti bohong. Pada 7 September 1974 Majelis Nasional Pakistan menetapkan dalam Konstitusi Pakistan bahwa semua orang yang tidak percaya kepada nabi terakhir Muhammad secara mutlak dan tanpa syarat telah keluar dari kelompok umat Islam.
Sikap umat Islam terhadap Ahmadiyah juga dilakukan agama lain. Protestan harus menjadi agama baru karena menolak otoritas Gereja Katolik dalam penafsiran Bibel meskipun antara kedua agama ini banyak sekali persamaannya. Tahun 2007 sebagian umat Hindu di Bali membentuk agama baru bernama agama Hindu Bali yang berbeda dengan Hindu lainnya.
Kristen dan Yahudi mempunyai banyak persamaan. Bibel Yahudi juga dipakai oleh Kristen sebagai kitab suci (Perjanjian Lama). Tapi, karena Yahudi menolak posisi Yesus sebagai juru selamat, keduanya menjadi agama berbeda. Logika persamaan harus diikuti dengan logika perbedaan sebab sesuatu menjadi dirinya justru karena adanya perbedaan dengan yang lain. Meskipun banyak persamaannya, manusia dan monyet tetap dua spesies berbeda.
Non-Ahmadiyah sesat
Jika umat Islam bersikap tegas dalam soal kenabian Mirza Ghulam Ahmad, Ahmadiyah juga bersikap senada. Siapa pun yang tidak beriman kepada kenabian Ghulam Ahmad dicap sebagai sesat, kafir, atau belum beriman. Itu bisa dilihat dalam berbagai literatur yang diterbitkan Ahmadiyah. Pada 1989 Yayasan Wisma Damai, sebuah penerbit buku Ahmadiyah, menerjemahkan buku berjudul Da'watul Amir: Surat Kepada Kebenaran, karya Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra.
Oleh pengikut Ahmadiyah, penulis buku ini diimani sebagai Khalifah Masih II/Imam Jemaat Ahmadiyah (1914-1965). Buku ini aslinya ditulis dalam bahasa Urdu dan pada 1961 terbit edisi Inggrisnya dengan judul Invitation to Ahmadiyyat. Pendukung Ahmadiyah dari kalangan non-Ahmadiyah baiknya membaca buku ini. Ditegaskan: ''Kami dengan bersungguh-sungguh mengatakan bahwa orang tidak dapat menjumpai Allah Ta'ala di luar Ahmadiyah. (hal 377).
Mirza Ghulam Ahmad mewajibkan umat Islam mengimaninya. Kata Bashiruddin Mahmud Ahmad: ''Kami sungguh mengharapkan kepada Anda agar tidak menangguh-nangguh waktu lagi untuk menyongsong dengan baik utusan Allah Ta'ala yang datang guna menzahirkan kebenaran Rasulullah SAW. Sebab, menyambut baik kehendak Allah Ta'ala dan beramal sesuai dengan rencana-Nya merupakan wahana untuk memperoleh banyak keberkatan. Kebalikannya, menentang kehendak-Nya sekali-kali tidak akan mendatangkan keberkatan.'' (hal 372).
Menurut Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad yang oleh kaum Ahmadiyah juga diberi gelar ra. (radhiyallahu 'anhu), setingkat para nabi, bukti-bukti kenabian Mirza Ghulam Ahmad lebih kuat daripada dalil-dalil kenabian semua nabi selain Nabi Muhammad SAW. Kata dia: ''Apabila iman bukan semata-mata karena mengikuti dengaran dari tuturan ibu-bapak, melainkan hasil penyelidikan dan pengamatan, niscaya kita mengambil salah satu dari kedua hal yaitu mengingkari semua nabi atau menerima pengakuan Hadhrat Masih Mau'ud as.'' (hal 372).
Jadi, oleh kaum Ahmadiyah, umat Islam diultimatum: iman kepada Ghulam Ahmad atau ingkar kepada semua nabi? Bandingkan logika kaum Ahmadiyah ini dengan ultimatum Presiden George W Bush: ''You are with us or with the terrorists.
Umat Islam diultimatum lagi oleh pemimpin Ahmadiyah ini: ''Jadi, sesudah Masih Mau'ud turun, orang yang tidak beriman kepada beliau akan berada di luar pengayoman Allah Ta'ala. Barang siapa yang menjadi penghalang di jalan Masih Mau'ud as, ia sebenarnya musuh Islam dan ia tidak menginginkan adanya Islam.'' (hal. 374).
Itu tidak aneh sebab Mirza Ghulam Ahmad mengaku pernah mendapat wahyu seperti ini: Anta imaamun mubaarakun, la'natullahi 'alalladzii kafara (Kamu Mirza Ghulam Ahmad adalah imam yang diberkahi dan laknat Allah atas orang yang ingkar/Tadzkirah hal 749).
Ada lagi wahyu versi dia: ''Anta minniy bimanzilati waladiy, anta minniy bimanzilatin laa ya'lamuha al-khalqu. (Kamu bagiku berkedudukan seperti anak-Ku, dan kamu bagiku berada dalam kedudukan yang tidak diketahui semua makhluk/Tadzkirah hal 236). Itulah Ahmadiyah yang katanya bersemboyan: Love for all. Hatred for None. Namanya juga slogan!
Zionis Israel juga mengusung slogan 'menebar perdamaian, memerangi terorisme'. Kaum Ahmadiyah terus-menerus meneror kaum Muslim dengan penyebaran pahamnya.
Dalam Surat Edaran Jemaat Ahmadiyah Indonesia tanggal 25 Ihsan 1362/25 Juni 1983 M, No 583/DP83, perihal Petunjuk-petunjuk Huzur tentang Tabligh dan Tarbiyah Jama’ah, dinyatakan: ''Harus dicari pendekatan langsung dalam pertablighan. Hendaknya diberitahukan dengan tegas dan jelas bahwa sekarang dunia tidak dapat selamat tanpa menerima Ahmadiyah. Dunia akan terpaksa menerima Pimpinan Ahmadiyah. Tanpa Ahmadiyah dunia akan dihimpit oleh musibah dan kesusahan dan jika tidak mau juga menerima Ahmadiyah, tentu akan mengalami kehancuran.''
Umat Islam sangat cinta damai. Tetapi, umat Islam lebih cinta kepada kebenaran. Demi cintanya kepada kebenaran dan juga pada ayahnya, maka Nabi Ibrahim as berkata kepada ayahnya, ''Aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata!''.
Ikhtisar:
- Agama lain juga pernah melakukan sikap sama seperti kasus Ahmadiyah.
- Dalam sunahnya, Rasulullah berpesan akan muncul kasus-kasus seperti ini.

4 comments:
Sorry for my bad english. Thank you so much for your good post. Your post helped me in my college assignment, If you can provide me more details please email me.
Jika orang Ahmadiyah tak boleh menggunakan simbol-simbol Islam dan tak boleh beramal sesuai ajaran Islam, maka logis muncul pertanyaan sebagai berikut:
1. Siapakah pemilik Islam? Bukan tah Allah yang Maha Kuasa pemiliknya?
2. Jika Allah pemilik Islam, dan hanya Dia, maka manusia hanyalah penerima amanat untuk melaksanakannya.
3. Jika manusia diberi amanat untuk menerapkan agama Islam sebagai ajaran terbaik yg difahaminya, maka adakah yg lebih berkuasa di atas Allah dengan menetapkan pelarangan mengamalkan ajaran terbaik itu?
4. Jika ada yg melarang pengamalan ajaran terbaik ini, berarti orang yg melarang tersebut memiliki kerancuan berpikir dan memiliki salah satu dari dua sikap berikut:
a. Tidak menghendaki org lain menjadi baik
b. Tidak mengakui kelebihan dan kehebatan ajaran Islam yg bisa membuat orang menjadi baik.
Dari sudut pandang ini maka, orang yg melarang warga Ahmadiyah menerapkan ajaran Islam, berarti orang tersebut melarang hal-hal berikut: warga Ahmadiyah tidak boleh mengamalkan tauhid Ilahi, tidak boleh membaca Al Quran suci, tidak boleh terakhlak mulia, tidak boleh menerapkan hukum-hukum Al Quran suci, tidak boleh mengirimkan Shalawat bagi yg Mulia Nabi Muhammad SHALLALLAAHU 'alaihi wasallam, tidak boleh santun, tidak boleh Shalat fardhu 5 waktu dan tidak boleh melakukan kebaikan-kebaikan lainnya yg diajarkan Islam. Maasyaa-aLLAAH. InnaaLILLAAHI wa innaa ILAIHI raaji'uun. Kami berlindung kepada Allah terhadap kerancuan berpikir seperti itu..
thanks amigo! great post!.
Salam, Datang Berkunjung Untuk Perkenalan dan Semoga Aku dan Kamu Selalu Sukses
Signature: BUTIK BUSANA MUSLIMAH
Post a Comment